
Gastroenteritis (flu perut) adalah infeksi pada saluran pencernaan yang menyebabkan diare, yaitu buang air besar lebih sering dengan tinja yang encer atau berair. Infeksi ini juga sering disertai muntah, yang biasanya berlangsung selama 6 hingga 24 jam. Diare umumnya berlangsung selama 2–4 hari, namun pada beberapa kasus dapat berlanjut hingga 10–14 hari. Artikel ini akan menjawab beberapa pertanyaan yang sering diajukan mengenai muntah atau diare pada anak.
Apa Penyebab Muntah dan Diare pada Anak? Apakah Kondisi Ini Berbahaya?
Banyak jenis penyakit maupun obat-obatan dapat menyebabkan muntah atau diare pada anak. Namun, penyebab yang paling sering adalah infeksi oleh virus. Muntah dan diare merupakan cara alami tubuh untuk mengeluarkan kuman penyebab infeksi atau memberi tanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres di dalam tubuh.
Infeksi virus umumnya bersifat ringan dan biasanya tidak berlangsung lebih dari satu minggu. Sebagian besar anak akan pulih dengan baik apabila mendapatkan istirahat yang cukup, asupan cairan yang memadai, dan makanan bergizi.
Meskipun demikian, pada beberapa kasus kondisi ini dapat menjadi lebih serius. Muntah dan diare menyebabkan tubuh kehilangan banyak cairan dan garam (elektrolit). Jika cairan dan elektrolit tersebut tidak segera digantikan dengan minum yang cukup, anak dapat mengalami dehidrasi. Dehidrasi merupakan kondisi yang dapat berbahaya, terutama pada bayi dan anak usia kecil.
Apakah Obat Dapat Membantu?
Menggunakan obat untuk menghentikan muntah atau diare justru dapat membahayakan anak Anda. Jangan memberikan obat kepada anak yang:
- Dibeli bebas di apotek tanpa resep (misalnya Gravol, Imodium, atau Kaopectate).
- Diresepkan untuk orang lain.
- Pernah diresepkan untuk penyakit yang sebelumnya pernah dialami anak Anda.
Pada sebagian besar penyakit yang menyebabkan muntah dan diare, anak tidak memerlukan antibiotik. (Antibiotik adalah obat yang digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri tertentu.) Antibiotik tidak dapat menyembuhkan infeksi yang disebabkan oleh virus.
Kapan Anak Harus Dibawa ke Dokter?
Anak sebaiknya diperiksakan ke dokter apabila menunjukkan salah satu tanda peringatan muntah atau diare yang serius. Tanda-tanda tersebut dapat berbeda pada setiap anak. Amati kondisi anak dengan saksama dan perhatikan jika ada perubahan perilaku atau kondisi yang tidak biasa.
Segera bawa anak ke dokter apabila mengalami SALAH SATU dari tanda-tanda peringatan berikut:
- Tidak mau minum
- Menangis tanpa mengeluarkan air mata
- Muntah berulang selama lebih dari 4–6 jam
- Mata tampak cekung
- Diare cair lebih dari 6 kali dalam sehari
- Nyeri perut yang berat dan tidak kunjung membaik
- Popok basah kurang dari 5 kali dalam sehari
- Napas cepat
- Kulit, mulut, dan lidah terasa kering
- Sangat mengantuk atau sangat rewel
- Kulit terasa dingin atau tampak keabu-abuan
- Nyeri kepala atau leher yang berat
- Muntah berwarna hijau
- Terdapat darah pada muntahan atau diare
- Menarik lutut ke arah perut sambil menangis
- Demam di atas 39°C yang berlangsung lebih dari 12 jam
- Ubun-ubun tampak cekung (pada anak berusia kurang dari 18 bulan)

Bagaimana Cara Merawat Anak di Rumah?
Saat anak mengalami muntah atau diare, perawatan yang tepat sangat penting untuk membantu proses pemulihannya. Gunakan terapi rehidrasi oral untuk menggantikan cairan yang hilang dan mencegah dehidrasi. Selain itu, berikan makanan bergizi untuk membantu mempercepat proses penyembuhan.
Rehidrasi
Berikan anak larutan elektrolit oral untuk membantu mencegah dehidrasi yang berat. Dehidrasi terjadi ketika tubuh kehilangan terlalu banyak cairan dan garam (elektrolit). Selama 6 jam pertama, pastikan anak mendapatkan jumlah cairan yang sesuai dengan usianya.
Apa Itu Larutan Elektrolit Oral?
Larutan elektrolit oral adalah cairan yang mengandung komposisi air, gula, dan garam dalam jumlah yang tepat. Larutan ini dapat dibeli di sebagian besar apotek dalam beberapa bentuk, seperti:
- Minuman siap konsumsi, seperti Pedialyte, Repalyte, atau Hydralyte.
- Bubuk yang harus dilarutkan dengan air, seperti Oral Rehydration Salts (ORS).
Peringatan: Campurkan bubuk ORS sesuai dengan petunjuk pada kemasan. Gunakan sendok dan gelas ukur untuk memastikan takaran yang tepat. Pencampuran yang tidak sesuai dapat membahayakan anak.
Berapa Banyak Cairan yang Harus Diberikan?
- Untuk bayi berusia kurang dari 6 bulan: Berikan 60–90 mL (12–18 sendok teh) setiap jam.
- Untuk anak usia 6 bulan hingga 2 tahun: Berikan 90–125 mL (18–25 sendok teh) setiap jam.
- Untuk anak usia 2 tahun ke atas: Berikan 125–250 mL setiap jam.
Jika Anda masih menyusui, lanjutkan pemberian ASI, tetapi berikan lebih sering dengan durasi yang lebih singkat. ASI tetap merupakan cairan terbaik untuk anak. Jika anak muntah, berikan cairan sebanyak 5 mL (1 sendok teh) setiap 1–5 menit menggunakan sendok atau spuit (syringe). Hindari memberikan minuman dalam jumlah banyak sekaligus karena dapat memicu muntah kembali. Saat kondisi anak mulai membaik, berikan cairan dalam jumlah lebih banyak dengan frekuensi yang lebih jarang, namun pastikan kebutuhan cairannya tetap terpenuhi. Setelah 24 jam, berikan larutan elektrolit oral setiap kali anak mengalami diare cair. Hindari minuman manis seperti jus apel, Kool-Aid, atau minuman bersoda karena dapat memperburuk diare.
Tips: Mulailah dengan memberikan sedikit demi sedikit larutan elektrolit oral agar anak dapat menyesuaikan diri dengan rasanya yang mungkin masih asing.
Berikan Makanan Bergizi untuk Membantu Pemulihan
Memberikan makanan bergizi, susu, atau susu formula kepada anak dapat membantu tubuh melawan infeksi. Nutrisi yang baik juga membantu mempercepat pemulihan lambung dan usus serta mencegah penurunan berat badan.
Jika anak sedang muntah, hentikan sementara pemberian makanan padat selama 6–12 jam, tetapi tetap lanjutkan pemberian ASI karena merupakan sumber nutrisi terbaik bagi bayi. Jika anak mengalami diare, jangan menghentikan pemberian makanan. Sebaliknya, berikan makanan kesukaan anak dalam porsi kecil setiap 3–4 jam. Pilih makanan yang kaya karbohidrat seperti roti, sereal, pasta, dan nasi, serta buah dan sayuran segar. Hindari memperkenalkan makanan baru atau makanan yang tinggi gula dan lemak.
Berikut adalah daftar makanan yang dianjurkan dan yang sebaiknya dihindari selama masa pemulihan.
Makanan yang Dianjurkan
- ASI, susu biasa tanpa tambahan air, atau susu formula
- Makanan bertepung seperti nasi, kentang, mi, roti panggang, dan biskuit tawar
- Sereal seperti sereal beras, sereal gandum, dan oatmeal
- Sumber protein seperti daging, ikan, atau ayam yang direbus atau dipanggang, serta kedelai dan telur
- Sayuran tanpa tambahan mentega
- Buah-buahan yang tidak diawetkan dalam sirup
- Sup
Makanan yang Sebaiknya Dihindari
- Jus anggur, jus apel, jus jeruk, minuman bersoda, atau ginger ale
- Es krim atau sorbet
- Sereal yang mengandung banyak gula
- Makanan berlemak seperti kentang goreng, hamburger, dan mentega
- Makanan pedas
Cara Mengurangi Risiko Anak Terkena Infeksi
- Cuci tangan setelah memegang daging, ayam, atau ikan mentah.
- Simpan daging yang belum dimasak atau belum dikonsumsi di dalam lemari es.
- Jangan berikan daging yang belum matang sempurna kepada anak, terutama ayam dan daging hamburger.
- Buang telur yang cangkangnya retak. Jangan berikan telur mentah kepada anak.
- Gunakan talenan yang berbeda untuk daging mentah dan bahan makanan lainnya.
Jangan sampai anak mengalami dehidrasi. Sediakan selalu larutan elektrolit oral di rumah. Minuman ini membantu menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang ketika anak mengalami muntah atau diare.
Cegah Penyakit Anak Menyebar ke Orang Lain

- Biarkan anak tetap berada di rumah hingga muntah dan diare benar-benar berhenti.
- Minta setiap orang yang masuk ke rumah untuk mencuci tangan setelah mengganti popok atau menggunakan toilet, setelah membersihkan muntahan anak, serta sebelum menyiapkan atau mengonsumsi makanan.
- Jangan biarkan siapa pun berbagi peralatan makan, seperti garpu, pisau, sendok, sumpit, sikat gigi, atau gelas minum dengan anak. Jika anak memiliki kebiasaan memasukkan mainan ke dalam mulut, jangan biarkan mainan tersebut digunakan bersama anak lain.
Lindungi Kulit Bokong Anak
- Ganti popok anak sesering mungkin.
- Bersihkan area bokong anak menggunakan sabun dan air. Bilas hingga bersih, kemudian tepuk-tepuk perlahan hingga kering atau biarkan mengering dengan sendirinya. Hindari penggunaan tisu basah bayi.
- Oleskan krim pelindung pada area bokong anak untuk membantu mencegah iritasi kulit akibat diare.
Kesimpulan
Gastroenteritis, atau yang sering disebut flu perut, dapat menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan bagi anak maupun keluarga. Dengan memiliki pengetahuan yang tepat dan melakukan penanganan sejak dini, Anda dapat membantu anak pulih lebih cepat. SBCC Baby and Child Clinic siap mendampingi keluarga dalam menghadapi kondisi ini melalui pelayanan medis yang profesional. Kewaspadaan orang tua, penanganan yang tepat waktu, dan dukungan yang sesuai merupakan kunci agar anak dapat segera pulih dan kembali menikmati masa kecilnya dengan sehat dan ceria.
Untuk informasi lebih lanjut atau membuat janji temu, silakan hubungi kami di sini.